semua hanyalah timbunan kata-kata, yang alih-alih memperkaya pemahaman, malah menjebak makna dalam aksara

Sunday, June 12, 2011

pada suatu waktu

"kau tahu kenapa siang harus terganti malam dinda?" tanyaku dengan nada gelisah kepada perempuan semampai yang duduk dihadapanku.

dia hanya terdiam mendengar tuturku, tutur yang menyiratkan gejolak rasa yang gelisah.

"bukankah dengan kehadiran malam, hidup menjadi lumpuh? bukankah dengan kedatangannya, hasrat terasa lelap?" desahku seakan berucap hanya pada diri sendiri.

dia tetap tak peduli dengan hadirku di hadapannya.
dia tetap asyik dengan pikirannya sendiri, seakan dunia hanyalah sebatas imajinasinya.

Thursday, February 24, 2011

I We Cudai

--Khrisna Pabichara


telah kusiapkan
walenreng’e, menjadi perahu
tumpanganmu di hulu saqdan.
ketika kapakmu, menjadi
tumpul tak berdaya.
kupoles walenreng’e menjadi
perahu perkasa.
berlayarlah Tenri Tappuq,
pelaut maha pelaut
seberangilah laut, juga maut.

bersamamu, sehelai
rambut, simpul jiwaku
menjadi pemandu
penuntun pelayaranmu
ke negeri yang jauh.
pun sepasang cincin gelang
sebagai tanda mata, dan
mahar buat pengantinmu, hai
La Pura Eloq.

senyap mengiring
langkahmu, petirpun
menyembunyikan gelegarnya.
Segan padamu, hai
Pamadeng Lette.
sunyi menyertai
lambaian tanganmu, menyeret
serta inginku menyatu, yang terbentur
sabda Batara Lattu’: “haram
hukumnya menikahi saudara!”

berangkatlah, dengan
amarah yang diperam, dan
rindu yang menggeram.
tak usah risau,
dirikulah ia, yang
siap melengkapi dirimu.
dia, pun menitis dari benih
batara guru, la togeq langiq.

mana helai rambut yang
kutitip dahulu, sebelum
bayangmu menghilang dari
ujung tangga istana luwu.
ukur-ukurkanlah, di rambutnya
tentu tak ada beda, sebab
rambutnya adalah rambutku
hatinya adalah jiwaku
dirinya adalah jelmaku
cintanya adalah rinduku
Rindu We Tenri Abeng kepadamu!

Tuesday, September 07, 2010

memendam rindu, ibarat mengasah belati

sebab rindu menghunjam sukma
mencacah jiwa, mengoyak rasa
terbelah

sebab belati menghunjam dada
mencacah muka, mengoyak luka
terbilah

memendam rindu, ibarat mengasah belati
rindu menujum, belati menajam

langit terluka oleh do’a yang patah

langit mengerang menahan sakit
tangisnya pecah
air matanya membuncah memendam amarah
murka yang merah beraroma darah

sepasang tangan tengadah
suaranya parau memelas
sebilah belati yang tak sengaja tercipta
dari bait-bait puisinya
telah menikam langit tepat di jantung
bukan di lambung

“tak pernah kutikamkan belati, hanya do’a yang kurapal berkali-kali”
do’a dengan ujung yang meruncing
dan kata-kata yang bergerigi
menempa udara menjadi belati
belati beraroma mati

“tak pernah kutikamkan belati, hanya do’a dari lubuk hati”
do’a dengan rima yang berirama
dan pilihan kalimat bersajak
memilin rasa menjadi belati
belati beraroma puisi

langit begitu tak peduli
itu do’a, belati atau puisi
amarahnya menjelma badai
jantungnya terluka parah
oleh do’a yang patah